JAKARTA | Kepolisian Daerah Metro Jaya hingga saat ini masih melakukan penyelidikan intensif terkait rangkaian aksi kekerasan yang terjadi di kawasan Slipi, Jakarta Barat, dan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Insiden tersebut mengakibatkan seorang pedagang kaca berusia 60 tahun bernama Bambang Setiawan meninggal dunia akibat pengeroyokan, sementara seorang warga setempat bernama Faturrahman serta seorang pelajar mengalami luka-luka serius akibat serangan serupa.
Informasi mengenai kronologi dan detail peristiwa ini dihimpun dari kanal Tempodotco yang menelusuri jejak kerusuhan tersebut. Hingga dua pekan pascakejadian, pihak kepolisian dilaporkan belum berhasil menangkap para pelaku, meskipun telah merilis dua sketsa wajah terduga pelaku yang terlibat dalam penganiayaan terhadap korban di Pejompongan.
Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Rosario de Marshal atau yang dikenal sebagai Hercules, mengakui telah mengerahkan sekitar 500 anggotanya ke area Slipi pada malam peristiwa terjadi. Hercules menyatakan bahwa mobilisasi tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan wilayah dari para perusuh setelah aksi demonstrasi di depan gedung DPR RI mulai mereda. Namun, narasi ini dipertanyakan oleh berbagai pihak mengingat adanya keterlibatan kelompok lain yang juga melakukan aksi serupa dengan atribut identik, seperti penggunaan ikat kepala putih dan tongkat kayu.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, massa yang diduga terlibat dalam kerusuhan tersebut terlihat melakukan konvoi menggunakan truk melintasi jalan tol sebelum akhirnya menyebar ke titik-titik krusial di pusat kota. Keberadaan kelompok-kelompok yang tak teridentifikasi ini menjadi fokus utama penyelidikan, terutama terkait tewasnya Bambang Setiawan yang saat itu sedang berada di sekitar tempat usahanya. Masyarakat dan pihak keluarga korban menuntut aparat penegak hukum untuk segera mengungkap identitas para pelaku agar insiden kekerasan serupa tidak terulang kembali di masa depan. (*)










